SEJARAH ISLAM DI INDONESIA
"PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA"
A. Sejarah Masuknya Islam di Indonesia
Penyebaran agama Islam di nusantara yang cukup aktif adalah dari pulau Sumatera hingga ke Sulawesi dan Maluku. Hal tersebut terjadi sejak ratusan tahun yang lalu dan puncak penyebaran agama Islam terjadi pada masa walisongo. Banyak teori yang dikemukakan perihal melalui apa islam masuk ke nusantara.
Salah satunya ialah Teori India (Gujarat) yang dicetuskan oleh GWJ. Drewes yang menyebutkan bahwa agama islam masuk ke Indonesia melalui para pedagang dari india muslim (Gujarat) yang berdagang di nusantara pada abad ke-13. Banyak bukti yang menguatkan teori Gujarat ini, salah satunya adalah makam Malik As-Saleh yang merupakan salah satu pendiri kerajaan Samudra Pasai. Corak dari batu nisan Malik As-Saleh sangat mirip dengan batu nisan yang ada di Gujarat.
B. Perkembangan Islam di Indonesia
Perkembangan agama Islam di Indonesia semakin pesat dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam. Perkembangan kerajaan Islam di Indonesia berlangsung antara abad ke-13 hingga abad ke-18. Kerajaan tersebut dapat dibagi berdasarkan lokasi pusat pemerintahan mereka, yaitu di Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Maluku. Kerajaan islam pertama di Indonesia ialah Kerajaan Samudra Pasai. Bukti sejarah adanya kerajaan ini ditulis oleh Ibnu Batutah, seorang utusan kerajaan Delhi ke Tiongkok.
Islam di Jawa masuk melalui pesisir utara Pulau Jawa ditandai dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat pada tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi di Desa Leran, Kecamatan Manyar,Gresik.
Kemudian di Kalimantan, Islam masuk melalui Pontianak yang disiarkan oleh bangsawan Arab bernama Sultan Syarif Abdurrahman pada abad ke-18. Di hulu Sungai Pawan, di Ketapang, Kalimantan Barat, ditemukan pemakaman Islam kuno. Angka tahun yang tertua pada makam-makam tersebut adalah tahun 1340 Saka (1418 M).
Di Pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Wali Songo (9 wali). Wali ialah orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Kesembilan wali tersebut adalah seperti berikut:
1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), menyiarkan Islam di sekitar Gresik.
2. Sunan Ampel (Raden Rahmat), menyiarkan Islam di Ampel, Surabaya, Jawa Timur.
3. Sunan Drajat (Syarifudin), menyiarkan agama di sekitar Surabaya
4. Sunan Bonang (Makdum Ibrahim), menyiarkan Islam di Tuban, Lasem, dan Rembang.
5. Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said), menyiarkan Islam di Jawa Tengah.
6. Sunan Giri (Raden Paku), menyiarkan Islam di luar Jawa, yaitu Madura, Bawean, Nusa Tenggara, dan Maluku.
7. Sunan Kudus (Jafar Sodiq), menyiarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah.
8. Sunan Muria (Raden Umar Said), menyiarkan Islam di lereng Gunung Muria, terletak antara Jepara dan Kudus, Jawa Tengah.
9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), menyiarkan Islam di Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon.
Kesembilan wali tersebut adalah seperti berikut:
1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), menyiarkan Islam di sekitar Gresik.
2. Sunan Ampel (Raden Rahmat), menyiarkan Islam di Ampel, Surabaya, Jawa Timur.
3. Sunan Drajat (Syarifudin), menyiarkan agama di sekitar Surabaya
4. Sunan Bonang (Makdum Ibrahim), menyiarkan Islam di Tuban, Lasem, dan Rembang.
5. Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said), menyiarkan Islam di Jawa Tengah.
6. Sunan Giri (Raden Paku), menyiarkan Islam di luar Jawa, yaitu Madura, Bawean, Nusa Tenggara, dan Maluku.
7. Sunan Kudus (Jafar Sodiq), menyiarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah.
8. Sunan Muria (Raden Umar Said), menyiarkan Islam di lereng Gunung Muria, terletak antara Jepara dan Kudus, Jawa Tengah.
9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), menyiarkan Islam di Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon.
Pada Masa Awal Kemerdekaan di Indonesia umat islam di Indoneia ikut berpatisispasi dalam merebut kemerdekaan. Sejarah kehidupan Islam di
Indonesia telah diakui sebagai kekuatan
cultural, tetapi Islam dicegah untuk
merumuskan bangsa Indonesia menurut
versi Islam. Sebagai kekuatan moral dan
budaya, Islam diakui keberadaannya,
tetapi tidak pada kekuatan politik secara
riil.
Perkembangan selanjutnya pada
masa Orde Lama, Islam telah diberi
tempat tertentu dalam konfigurasi yang
paradoks, terutama dalam dunia politik.
Sedangkan Orde Baru, tampaknya Islam
diakui sebatas sebagai landasan moral
bagi pembangunan bangsa dan Negara.
Pendiskriminasian Islam tersebut
memang sudah diawali pada saat wajah
(ideologi) Indonesia akan ditentukan
sehingga muncullah berbagai gerakangerakan dan pertentangan-pertentang
Islam anti pemerintah akibat kekecewaan
terhadap pembentukan Negara Pancasila
sebagai dasar Negara Indonesia.
Namun, lambat laun ketika semua gerakan separatis telah dihentikan dan paham masyarakat indonesia tentang Islam. para politis islam mulai diberikan ruang untuk berpolitik dan ikut andil dalam menyusun pemerintah.
~ DEVITA PUTRI MAHARANI (IX. H/10) ~
Komentar
Posting Komentar